Sabtu, 02 Desember 2017

the way enjoy life

Saya telah belajar banyak ahl dari beberapa tahun terakhir. Saya belajar bagaimana menikmati setiap waktu yang kita lewati, hidup dalam “masa sekarang”, menjadi lebih baik dan berguna bagi orang lain, dan yang terpenting, dua jam dari waktumu sekarang, kamu nggak akan bisa kembali ke waktu saat ini. Well, it can be say waktu itu kejam.
Saya ingin membagi kisah bagaimana saya dealing dengan waktu. Bagaimana keterbasan pemahaman saya akhirnya membawa saya pada satu hal bahwa menikmati waktu berharga sekarang lebih baik daripada selalu meyesali sesuatu yang sudah lewat. Banyak dari kita pasti sudah terbiasa dengan hal ini, entah itu terjadi di lingkungan kita, kepada diri kita, atau bahkan kita yang tanpa sadar melakukannya.
Banyak orang selalu merasa sedih,kesal, bahkan membuat-buat dirinya sedih karena hal yang sudah lewat. Banyak orang terkurung untuk seharian merenungi sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak bisa kembali melakukan apapun pada waktu itu. Tanpa sadar ketika dia merenungi waktu yang sudah lewat, ia menyia-nyiakan waktunya yang sekarang dan membuat waktu yang akan datang jadi abu-abu. Sounds classic buat kamu yang sering baca buku motivasi. Yet it happen to me beberapa tahun lalu
Saya terlahir sbg anak pertama dengan perasaan yang mellow. Dibentak sedikit mellow, nangis. Dimarahi sedikit nangis. Itu terjadi bukan hanya setahun dua tahun. Itu terjadi sampai saya berusia 23 tahun. Kemudian suatu hari saya ketemu sepasang bule sukarelawan dari Australia. Mereka sepasang bule pertama yang jadi teman akrab saya. Usia kami terpaut jauh. Bahkan bisa dibilang saya malah cocok jadi anak mereka. Suatu hari saya masih ingat, hari itu saya dapat telepon yang mengabarkan bahwa nenek saya meninggal. Saya shock. Nangis. Banget. Kebayang kan saya Cuma punya nenek satu-satunya. Kakek saya sudah meninggal, nenek dari ayah sudah meninggal. Saya bilang ke Karen kalau nenek saya meninggal. Tapi waktu itu saya tidak nangis. Air mata saya tetap tahan. Entah kenapa setelah pulang dari rumah Karen saya nangis. Sejadinya. Malamnya Karen telepon. Saya bilang saya sudah tidak sedih. Karen bilang tidak apa-apa untuk menjadi sedih. Baru kali ini saya dikasih tau hal begini. Dan saya nangis. Sedih. Tanpa malu
Dari sini saya belajar. Dari kecil kita selalu terdogma untuk ini itu sehingga tidak ekpsresif. Masih ingat ketika kecil pas nangis kita ingin ungkapkan yang kita mau, bukannya diajak komunikasi dua arah malah kita disuruh berhenti nangis. Masih ingat ketika kita ingin menyampaikan kepada ibu guru kalau tulisannya tidak jelas terlihat, tapi malah kita dibilang tidak sopan? Karena terbiasa menahan-nahan hal yang ada di pikiran kita agar terlihat baik,sopan,dan manis, kita menjadi tidak teriasa mengungkapkan hal-hal mengganjal di hati dengan bebas. Kita menjadi seseorang yang menahan-nahan. Begitu juga ketika kita sedih. Kita menahan. Karena menahan jadinya kesedihan menjadi bertumpuk dan tidak lepas. Yang terjadi adalah kita menjadi sedih ketika mengingat masa lalu.
Bayangkan jika ketika kita sedih lalu kita terima kesedihan kita. Terima dengan senang, lalu mencari apa arti dari kesedihan kita dalam hal positif. Jadi setiap kita sedih yang ada kita mengingat semua sedih kita dalam hal-hal yang positif. Ini ngebantu banget.
Sejak kejadian itu, setiap ada yang sedih saya selalu nyoba buat nyari apa ya hal positif yang bisa diambil. Saya selalu coba gak drama dalam nanggepin setiap hal. Toh yang punya hidup saya, ya saya berhak tentukan apa yang buat saya selalu positif dan happy. Mungkin kamu yang baca ini bakal bilang “kamu sih enak,kan masalahmu keci”. Well, I ve benn thorugh masalah yang besar-besar. Aku pernah dijahatin orang, ditipu orang, pernah juga dijahatin teman sendiri. Barang-barang diambilin sama dia. What I did adalah calm down. Cari hal positifnya. Marah-marah boleh tapi kasih batas. Inget yang punya masalah lebih besar pasti banyak. Tapi bagaimana kita nanggepin amsalah sekarang nentuin apa yang bakal datang kemudian.
If you chose to stay mellow dan nyesalin masa lalu tanpa belajar jd lebih baik. Well itu pilihanmu. Nggak ada yang salah. Cuman sayang aja hidup yang kamu punya dihabisin buat hal-hal sepele. Aku prefer belajar dari msa lalu, kalau ada orang jahat ke kita, maafkan, baik sama dia, tapi gak pernah percaya lagi. Kenapa? Menurutku kepercayaan itu mahal. Butuh proses to get it. Aku dalam dunia kerja pun berushaa lakukan yang terbaik buat orang percaya sama kapasitas yang aku punya. Apalagi dalam hubungan lainnya. Dalam lingkaran pertemanan pun nggak semua teman bisa aku percaya. Kenapa? Karena nggak semua orang bisa terima kekurangan kamu. Nggak semua orang yang uda kamu kasih tau keburukanmu bakal so lovely terima kamu apa adanya. Pasti akan ada judgement di dalam dia. Sounds defensive, right? Well, sekali lagi life is a choice. I prefer berada di zona ku yang nyaman supaya bisa fokus sama bucketlist ku daripada keluar nyoba A B C D yang menurutku wasting time. Jadi pas ada orang break keeprcayaan itu satu hal yang aku bakal lakuin. I will never trust him again. Kalian pasti protes, semua orang berhak dapat kesempatan kedua. Well... here my opinion: nggak semua orang berhak dapat kesempatan kedua. Kalau ada kesempatan kedua itu bakal butuh proses lagi untuk percaya. Means bakal butuh longer time to be like as it before. Karena semuanya kembali ke pilihan masing-masing ya I repect for you yang kasih kepercayaan memaafkan dengan mudah dan kembali lagi ke lingkaran dan proses yang sama berkali-kali sementara di waktu dan tempat lain ada orang yang lebih baik untuk dipercaya.
Back to pembahasan tentang mellow dan sedih tadi, seorang teman yang psikolog pernah nyeletuk “jangan salah loh. Orang yang mellow suka sedih itu sebenarnya menikmati dia menyiksa dirinya sendiri. Ada kepuasaan tersendiri saat dia merasa sedih”. Ist? Aku nggak pernah merasa puas saat sedih. Well kita perlu bersedih as i told prviously. Nggak ada masa yang senannng aja,yakan? But kasi batas buat sedih dan bangkit mulai lagi. Coba sesuatu yang baru, bkin sesuatu yang happy kayak rambut bru, temen baru,atau pacar baru. Makes your family happy. Makes your friend happy. Masakin temen. Kasih makan kucing jalanan. Sapa bapak ojek yang nganterin ke kampus. Ajak ngobrol. Becandaainn. Ajak ngorbol mbak pembantu. Kalau ada roti lebih bagikan. Terlihat sepele, but it much better drpd sedih mulu. Yakan. Seenggaknya pas ojek lagi ketemu si bapak malah jadi seru jadi temen. Atau sama mbak yang dikasi roti besok-besok dimasakin. Yakan. Who knows the future. Hal-hal kecil yang kita lakuin sekarang selalu berdampak ke masa depan kita.  Dont focus on what makes you sad.

Sejauh iniMengutip dari kata seseorang “yang bikin nyesal itu keputusan yang nggak kamu buat hari ini, sekarang” itu lebih bikin nyesal daripada mikirin amsa lalu terus. So which one is yours? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar